“Sus, anak saya kok tiba-tiba nggak mau makan ya?â€
Kalimat itu terdengar hampir setiap hari di RSIA Soerya.
Seorang ibu duduk dengan wajah cemas. Ia bercerita, sebelumnya anaknya lahap makan, tapi beberapa hari terakhir setiap kali disuapi justru menutup mulut rapat, memalingkan wajah, bahkan menangis. Semua cara sudah dicoba dibujuk, diganti menu, sampai dipaksa sedikit namun tetap tidak berhasil.
Kalau Anda pernah mengalami hal yang sama, Anda tidak sendiri.
Kondisi ini sering disebut sebagai GTM, atau Gerakan Tutup Mulut. Dan meskipun membuat orang tua khawatir, dalam banyak kasus, ini adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Bukan Sekadar “Tidak Mau Makanâ€
Menurut World Health Organization, perilaku makan anak memang bisa berubah seiring perkembangan usia, terutama saat mulai mengenal makanan padat.
Di fase ini, anak mulai belajar mengenali rasa, tekstur, dan juga menunjukkan preferensinya sendiri.
Artinya, GTM sering kali bukan karena anak “bandel†atau “manjaâ€, tetapi karena ia sedang belajar mengontrol dirinya. Namun, di sisi lain, kondisi ini tetap tidak boleh dianggap sepele terutama jika berlangsung lama.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Dalam praktik sehari-hari, banyak kasus GTM bukan disebabkan oleh satu faktor saja.
Ada anak yang bosan dengan menu yang itu-itu saja. Ada yang sedang tidak nyaman karena tumbuh gigi. Ada juga yang terlalu sering mengonsumsi camilan manis, sehingga tidak merasa lapar saat waktu makan tiba.
Menariknya, ada juga anak yang justru menolak makan karena pengalaman makan sebelumnya kurang menyenangkan, misalnya terlalu sering dipaksa.
Tanpa disadari, momen makan berubah dari yang seharusnya menyenangkan, menjadi sesuatu yang membuat anak tertekan.
Pendekatan yang Lebih “Lembutâ€, Tapi Efektif
Di RSIA Soerya, kami sering mengingatkan orang tua bahwa mengatasi GTM bukan soal “siapa yang menang†orang tua atau anak.
Ini soal membangun kembali hubungan yang sehat dengan makanan.
Ketika orang tua mulai mengurangi tekanan, mengganti pendekatan menjadi lebih santai, dan memberikan variasi menu yang menarik, perubahan biasanya mulai terlihat.
Bukan instan, tapi perlahan.
Ada satu momen yang sering kami lihat: ketika anak mulai membuka mulutnya lagi, bukan karena dipaksa, tapi karena merasa nyaman.
Dan itu adalah titik balik yang penting.
Kapan Perlu Lebih Waspada?
Meski GTM sering bersifat sementara, ada kondisi yang perlu diperhatikan lebih serius.
Jika anak tidak mau makan selama lebih dari dua minggu, berat badan tidak naik, atau terlihat lebih lemas dari biasanya, sebaiknya tidak ditunda untuk konsultasi.
Karena dalam beberapa kasus, GTM bisa berkaitan dengan masalah nutrisi atau kondisi kesehatan tertentu yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Menghadapi anak GTM sering kali bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga emosional.
Ada rasa khawatir, takut anak kekurangan gizi, bahkan kadang muncul rasa bersalah sebagai orang tua.
Di RSIA Soerya, kami memahami perasaan itu.
Karena setiap orang tua hanya ingin satu hal: anaknya tumbuh sehat dan bahagia.
Melalui layanan konsultasi tumbuh kembang dan gizi, kami berusaha hadir bukan hanya sebagai tenaga medis, tetapi juga sebagai partner yang mendampingi mencari tahu penyebabnya, lalu membantu menemukan solusi yang paling sesuai untuk setiap anak.
Pelan-Pelan, Tapi Pasti
GTM bukan akhir dari segalanya. Ini adalah fase yang bisa dilalui, dengan pendekatan yang tepat dan penuh kesabaran.
Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu sempurna.
Yang terpenting adalah tetap hadir, mencoba, dan memahami kebutuhan anak. Jika saat ini Anda sedang menghadapi fase GTM dan merasa bingung harus mulai dari mana, tidak ada salahnya untuk mencari pendampingan yang tepat.
Tim RSIA Soerya siap membantu mengevaluasi kondisi anak secara menyeluruh, sehingga orang tua tidak perlu menebak-nebak lagi.
Karena setiap anak punya cerita yang berbeda dan pendekatannya pun tidak bisa disamakan.