Menjelang Lebaran, suasana rumah biasanya semakin sibuk dan penuh persiapan. Ada yang mulai menyiapkan perjalanan mudik, berbelanja kebutuhan hari raya, hingga merencanakan silaturahmi dengan keluarga besar. Di tengah semua kesibukan itu, kesehatan anak tetap perlu menjadi perhatian utama.Salah satu kondisi yang sering membuat orang tua panik adalah kejang demam pada anak. Saat melihat tubuh anak tiba-tiba kaku, mata mendelik, dan tidak merespon panggilan, wajar jika orang tua merasa sangat khawatir. Namun penting untuk diketahui bahwa sebagian besar kejang demam sebenarnya tidak berbahaya dan jarang menimbulkan kerusakan pada otak.
Kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, ketika suhu tubuh meningkat lebih dari 38°C. Kondisi ini umumnya dipicu oleh infeksi, seperti flu, radang tenggorokan, atau infeksi telinga. Kejang ini berbeda dengan epilepsi karena muncul sebagai respons tubuh terhadap demam yang meningkat secara cepat. Menurut pedoman dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kejang demam dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah kejang demam sederhana, yaitu kejang yang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) dan tidak berulang dalam 24 jam. Jenis ini adalah yang paling sering terjadi. Sedangkan kejang demam kompleks berlangsung lebih lama, dapat berulang dalam satu hari, atau hanya melibatkan satu sisi tubuh.
Menjelang masa liburan seperti Lebaran, risiko anak mengalami demam sering kali meningkat. Hal ini dapat terjadi karena perubahan rutinitas harian. Anak bisa menjadi lebih lelah akibat perjalanan mudik yang panjang, mengalami perubahan cuaca, atau pola tidur dan makan yang tidak teratur. Selain itu, aktivitas di tempat ramai juga meningkatkan kemungkinan anak terpapar virus penyebab infeksi. Ketika kejang demam terjadi, hal yang paling penting bagi orang tua adalah tetap tenang. Panik justru dapat membuat penanganan menjadi tidak optimal. Letakkan anak di tempat yang datar dan aman, lalu miringkan tubuhnya agar air liur atau muntahan tidak masuk ke saluran napas. Longgarkan pakaian di sekitar leher agar anak dapat bernapas dengan lebih nyaman. Hindari memasukkan apa pun ke dalam mulut anak karena tindakan ini justru dapat berbahaya.
Perhatikan juga durasi kejang yang terjadi. Setelah kejang berhenti, orang tua dapat memeriksa suhu tubuh anak dan memberikan obat penurun panas sesuai anjuran dokter. Namun jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, anak sulit sadar setelah kejang, kejang terjadi berulang dalam satu hari, atau terjadi pada bayi di bawah usia enam bulan, maka anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Agar perjalanan mudik tetap aman dan nyaman, orang tua juga bisa melakukan beberapa langkah pencegahan sederhana.
Tips mencegah kejang demam saat mudik:
1. Pastikan anak cukup istirahat sebelum perjalanan
2. Bawa termometer dan obat penurun panas
3. Pastikan anak cukup minum agar tidak dehidrasi
4. Hindari tempat terlalu padat jika anak sedang kurang sehat
5. Segera tangani demam sejak awal
Pada akhirnya, kejang demam memang bisa menjadi pengalaman yang menegangkan bagi orang tua, terlebih ketika terjadi di momen penting seperti menjelang Lebaran. Namun dengan pemahaman yang tepat dan kesiapan dalam menghadapi kondisi tersebut, orang tua dapat menangani situasi ini dengan lebih tenang dan percaya diri. Sebelum memulai perjalanan mudik atau merayakan hari raya bersama keluarga, tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.
Yuk, cek kesehatan si kecil di RSIA SOERYA sebelum Lebaran, agar Anda dan keluarga dapat merayakan hari kemenangan dengan rasa tenang, sehat, dan penuh kebahagiaan. 🌙